Mengembalikan Pemilihan Gubernur pada Rakyat
October 5, 2006 by Daisy Natalia Awondatu
Pergi ke Jakarta untuk menambah pengalaman di InterMatrix sungguh suatu kesempatan yang tidak sia-sia. Bisa bertemu berbagai macam orang, mulai dari artis, mantan presiden, sampai blogger top. Bisa naik Murano Orange B 8120 V, bisa pergi ke berbagai tempat mulai dari Madrasah 5B, Hard Rock Cafe, Bogor, bahkan bisa ke Balai Kota Jakarta.
Selasa kemarin saya pergi ke Balai Kota DKI Jakarta, bukan untuk study tour tapi untuk mengikuti press conference “Gubernur Kita”, sebuah show baru yang dimiliki Jak TV, dan akan mulai nanti malam. Memasuki ruangan yang bergaya khas perpaduan Kolonial-Jawa, kemudian kami menuju ke ruang acara berlangsung. Kamera di kiri, note book dan bolpoin di kanan, siap melaporkan acara yang berlangsung.
Berikut laporan saya, sebagaimana dilaporkan di Perpektif Online.
Mengembalikan Pemilihan Gubernur pada Rakyat
Jak TV punya sebuah show baru “Gubernur Kita“, dengan pemeran utama-nya adalah Effendi Gazali sebagai Host, serta Ryas Rasyid dan Wimar Witoelar sebagai Panelis. Gubernur Kita akan disiarkan live mulai hari Kamis, 5 Oktober 2006 jam 21.00 – 22.00 WIB. Untuk siaran perdana, Jak TV akan menghadirkan Sutiyoso, calon mantan Gurbernur DKI Jakarta, karena pasti dia tidak dapat dipilih lagi untuk tahun 2007.
Sehubungan dengan show “Gubernur Kita”, siang tadi Jak TV mengadakan press conference di Balai Kota Jakarta. Dengan memakai Balai Kota Jakarta, menunjukkan bahwa Pemerintah, khususnya Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso mendukung acara ini.
Acara berlangsung sekitar 30 menit, dimulai dari pukul 11.15 WIB dan berakhir pada 11.45 WIB. Erick Tohir (Dirut Jak TV), Ryas rasyid, Effendi Gazali, Wimar Witoelar, dan Timbo Siahaan (Program Director “Gubernur Kita”) masing-masing memberikan opininya secara bergantian mengenai show “Gubernur Kita”.
Effendi Gazali, mengatakan bahwa “Gubernur Kita” merupakan sebuah acara yang pertama dan satu-satunya di Indonesia yang khusus diadakan menjelang Pilkada. Show ini terdiri dari 3 garis besar. Pertama merupakan sosialisasi Pilkada itu sendiri, apa harapan masysrakat, belajar dari pengalaman Sutiyoso, dsb. Bagian kedua, mulai mencari siapa kira-kira “bintang” masing-masing partai, karena sampai sekarang masih belum jelas siapa saja yang sudah mendapat “tiket”. Bagian terakhir acara akan memberi kesempatan masing-masing calon untuk memaparkan vuisi misi-nya, program-programnya, dan juga akan ada debat terbuka antar calon.
Ryas Rasyid menyampaikan harapannya lewat acara ini nantinya akan menghasilkan rational voters. Di berbagai pilkada, kebanyakan masyarakat memilih berdasrkan komunalisme. Akan tetapi lewat acara ini, walaupun menghibur, diharapkan mampu memberikan pencerahan policy preference pada masyarakat.
Wimar Witoelar menegaskan bahwa dia sangat mendukung acara ini, karena dia ingin mengembalikan Pemilihan Gubernur pada Rakyat. Bukan seperti pemilihan yang lalu-lalu, di mana Gubernur ditunjuk oleh Soeharto dengan kedok demorasi, ditunjuk karena politik dagang sapi seperti yang pernah dilakukan Golkar atau PDIP, tapi benar-benar full partisipasi dari rakyat. Pihak yang paling dekat dengan masyarakat adalah media, karena itu peran media sangat penting di sini. Menurut Wimar, bagaimana cara menyampaikan informasi pada rakyat adalah lewat acara yang diselingi dengan humor dan dapat menghibur mereka yang menonton.
Dalam sesi tanya jawab, John (ANTARA) mempertanyakan kemungkinan adanya bias dari host dan panelis. Menurut Wimar, tidak ada jaminan pasti tidak bias, oleh karena itu butuh bantuan media, pers untuk dapat membantu mengontrol. Akan tetapi Wimar berjanji akan menunjukkan objektifitasnya dalam menggali kelebihan dan kekurangan calon. Apabila pertanyaan yang diajukannya berat itu bukan untuk memojokkan, tapi untuk “push people to their best“
Imam (Harian TERBIT) menanyakan kemungkinan adanya tekanan-tekanan terhadap Jak TV. Jak TV memberikan jamnan tidak ada, dengan alasan orang-orang yang di pilih adalah tokoh-tokoh yang kredibilitasnya bisa dipertanggungjawabkan dan selain itu kepemilikan saham Jak TV adalah oleh pihak swasta, jadi tidak akan ada tekanan pemerintah dalam acara ini.
Yang terakhir, Budi (Harian WAWASAN) bertanya mengenai pemasangan iklan para calon di Jak TV. Pihak Jak TV menjawab, pasti ada kemungkinan para calon memasang iklan di Jak TV, akan tetapi pihak Jak TV akan membatasi spot iklan masing-masing calon. Hal ini merupakan bagian dari independensi Jak TV yang telah dijanjikan dari awal.
Jadi, bagaimana show ini akan berjalan, tidak ada seorang pun yang akan tahu. Kita hanya bisa menunggu hingga tirai dibuka pada waktunya nanti. Yang pasti, show ini disuguhkan dengan satu tujuan: Mengembalikan Pemilihan Gubernur pada Rakyat






ngumpulin pengalaman terus.. lama2 ga nyempil lagi hihi
aduh des… terharu aku liat kamu sekarang udah jadi anak jakarte…
sayang sekali… biar udah hapal jalah2 jakarta kamu masih ndak pernah ke bali… =p
btw di IMX tuh kerjamu kok menjurus2 jurnalistik gini? tapi asyik lah… membuka kesadaran bahwa PR bukan cuma “BB” (bondo bacot alias modal ngomong) hahahahaa….
halo des… Moga2 msh inget sm ak… hehe…
kita pernah ketemu di latjurdas UBAYA pas SMA dulu..
baca ceritamu ttg magang bikin pingin cepetan masuk magang di IMX!!!
IMx here i come!!