Not Just An Ordinary Activist!
April 25, 2007 by Daisy Natalia Awondatu
Sekian lama ngga pernah nulis artikel untuk sebuah media, akhirnya aku menulis juga untuk majalah BC alias BEM Bicara dari BEM UKP. Entah bagaimana menurut para pembaca majalah BC, yang pasti i proud of myself, karena bisa menyelesaikan artikel ini. Fiuh… pertama-tama sungguh terasa berat menjetikkan jari-jari ini di atas keyboard, karena ngga PD dengan apa yang harus ditulis untuk majalah ini. Yah… semoga artikel ini bisa menjadi suatu bacaan yang memberi inspirasi bagi teman-teman mahasiswa yang membaca
———————————————————————————————————–
Suatu hari, ada seorang rekan yang merupakan fungsionaris sebuah lembaga kemahasiswaan mengatakan demikian, “Aduh, IP-ku semester ini turun, jelek banget. Ini karena aku ikut organisasi. Coba aku ngga repot begini, pasti nilaiku lebih bagus.”
An ordinary activist Ungkapan seperti rekan saya di atas mungkin pernah atau sering kita dengar keluar dari orang-orang yang menjadi aktivis lembaga kemahasiswaan, atau bahkan ucapan itu justru keluar dari mulut kita sendiri. Bagi saya, kesibukan menjadi seorang aktivis bukanlah suatu alasan kita meninggalkan kewajiban kita sebagai mahasiswa. Seorang dosen saya memberitahukan bahwa di Petra ada suatu fenomena yang unik mengenai motivasi mahasiswa kuliah di Petra. Hasil survey terhadap mahasiswa angkatan baru menunjukkan bahwa hal yang menarik mereka kuliah di Petra adalah karena di sini mereka bisa berorganisasi, bukan karena kualitas akademis jurusan-jurusan yang ada di UK Petra ini. Survey ini bisa menunjukkan bahwa mahasiswa tidak lagi menganggap kuliah atau akademis sebagai suatu hal yang menarik. Padahal, seharusnya sebagai mahasiswa, hal yang utama bagi kita adalah kuliah. Ada satu hal mendasar yang perlu kita ketahui dan tidak boleh kita lupakan, bahwa kita ini adalah mahasiswa, sementara itu kegiatan organisasi adalah pelengkap emotional excellence kita sebagai mahasiswa. Tapi terkadang yang terjadi justru sebaliknya. Banyak mahasiswa yang tidak kuliah sambil berorganisasi, tapi berorganisasi sambil kuliah. Atau dalam bahasa sederhananya, bukan kuliah yang nomer satu, tetapi organisasi-lah yang nomer satu. Yang terjadi di lapangan, ada banyak aktivis yang nilainya jeblog, bolos kelas, sering terlambat masuk kelas, kuliah acak-acakan, jarang hadir di kerja kelompok, tidak lulus mata kuliah, dll. Kebanyakan di antara mereka “berlindung” di balik kata-kata demikian: ”Iya, saya kan repot berorganisasi, harus rapat ini dan itu”. Dan kemudian, mereka yang aktif berorganisasi mengambil solusi untuk mengatasi problem ini dengan tidak lagi menjadi aktivis. Apa yang telah disebutkan di atas tadi menyebabkan munculnya pandangan negatif mengenai aktivis lembaga kemahasiswaan dan bahkan terhadap lembaga kemahasiswaan itu sendiri. Aktivis itu identik dengan pengangguran, kurang kerjaan, malas kuliah, dll. Secara tidak langsung, kredibilitas lembaga kemahasiswaan pun menjadi turun di mata mahasiswa. Sederhananya, bagaimana mungkin mahasiswa bisa percaya terhadap mereka yang duduk di lembaga kemahasiswaan, apabila di kelas (kegiatan perkuliahan) saja mereka tidak mampu menunjukkan bahwa mereka adalah mahasiswa yang baik dan layak untuk menjadi wakil mahasiswa di lembaga kemahasiswaan.An Extraordinary Activist
Lantas, bagaimana seharusnya? Jangan pernah puas menjadi aktivis biasa! Mungkin saat ini kita yang aktivis sudah berpuas diri dengan kondisi kita. Ah, sudah biasa, jadi aktivis itu memang harus siap nilainya jelek, harus siap bolos, harus siap dimarahi dosen wali, dan sebagainya. Jangan pernah berpikir demikian. Kita harus menjadi seorang aktivis yang luar biasa. Ketika memutuskan untuk menjadi seorang aktivis, kita belajar bertanggung jawab secara lebih atas diri kita, termasuk atas waktu yang kita miliki. Menjadi aktivis bukanlah alasan kita tidak mampu menjadi mahasiswa yang berprestasi. Justru kita harus menunjukkan, bahwa sebagai aktivis kita memiliki value added sebagai mahasiswa, kita bisa belajar banyak hal yang tidak bisa didapatkan hanya dari kegiatan perkuliahan saja. Buktikan bahwa kita bukan hanya jago berorganisasi, tapi juga jago dalam perkuliahan. Baru-baru ini di Jurusan saya, Ilmu Komunikasi, ada pengumuman mengenai pemilihan mahasiswa terbaik untuk menjadi delegasi Jurusan dalam sebuah kegiatan yang prestise-nya tinggi, karena pihak penyelenggara dan lingkup kegiatannya nasional. Pihak penyelenggara dan Jurusan saya menetapkan standar yang cukup tinggi bagi calon peserta, yaitu dilihat dari IPK > 3,00, TOEFL score, dan keaktifan dalam organisasi (SKKK). Secara ringkas, calon peserta harus memiliki kompetensi dalam bidang akademis maupun keorganisasian. Banyak mahasiswa yang nilainya tinggi, banyak juga mahasiswa yang keaktifan organisasinya tinggi. Tapi, jarang sekali yang mampu menggabungkan keduanya. Apa yang terjadi di Jurusan saya ini mungkin bisa menjadi contoh yang paling konkrit untuk mendorong mahasiswa menjadi mahasiswa yang luar biasa, bukan sekedar mahasiswa atau aktivis yang biasa-biasa saja. Tidak mudah untuk menjadi seorang aktivis yang luar biasa, tapi bukan berarti kita tidak bisa. Ketika kita mampu menampilkan diri sebagai sosok aktivis yang teladan, aktivis yang berprestasi, dan memang layak untuk menjadi wakil mahasiswa di lembaga kemahasiswaan; hal ini secara otomatis akan meningkatkan ketertarikan mahasiswa lain untuk berorganisasi. Bahkan bukan hanya mahasiswa saja yang tertarik, pihak Universitas, Fakultas, dan Jurusan pun akan semakin menghargai sosok aktivis dan eksistensi lembaga kemahasiswaan.
Jadi, pilihan untuk menjadi aktivis yang biasa-biasa saja atau aktivis yang luar biasa ada di tangan kita masing-masing. Pertanyaannya adalah, apakah kita berani menerima tantangan ini? Dare to be different! Jadilah aktivis luar biasa





Wow akhirnya muncul juga posting yang baru setelah sekian lama tidak aktif (hehehehe).
Thank’s ya udah buat artikel ini di majalahku. Keren.
Oh ya kapan ketemu?
Aku mau kasih hadiah buat kamu, tapi nggak seberapa sih kalau dibandingin ama kualitas artikel kamu des. Hadiah itu cuman buat having fun aja kok, aku harap kau mau menerimanya.
Lain kali nulis lagi ya di majalahku.
Thank’s
~evelyn
http://evelynpy.wordpress.com/
Mba… Bagaimana pendapatnya tentang mahasiswa yang bersifat pragmatis?
kita itu lebih seneng disebut mahasiswa pinter atau mahasiswa aktif sih??
@ pemuda dari kota gempa
kalau saya sih melihatnya semua itu pilihan, ada yang mau terlibat dan ada yang tidak mau terlibat. Di kampus saya banyak juga mahasiswa yang pragmatis kok. Karena itu, kita yang aktif perlu menunjukkan bahwa kalo aktif, banyak untungnya. Itu menurut saya sih…
@ Widi
aku mau dua-duanya… hehe..
menurutku, bergantung dari cara pandang orang tersebut. kalo menganggap bahwa studi saja cukup, maka dia menganggap ngga perlu ikut2 kegiatan lain untuk menambah soft skill. tapi ada juga yang aktif mlulu, sampe lupa sama tanggung ajwab kuliahnya…
Jadi, kalo bisa ya seimbang lah…
well, Saya setuju dgn Daisy…
kita sbg mahasiswa selain harus pinter dalam artian tugas2 kampus terselesaikan dgn bagus, nilai juga bagus… kita juga wajib ber-organisasi.
Kalo kata Bapak saya dikampung: “Tujuan utama kuliah bukan nyari ilmu (Formal-Education!), tujuan kuliah itu yg pertama nyari temen, kedua ikut organisasi, ketiga nyari ilmu (formal education)”
Hidup itu praktek. Gak semua apa yg kita pelajari di bangku kuliah applicable to what we are facing in the real world.
Beruntunglah Daisy kuliah di campus Petra… banyak organisasi2 kemahasiswaan… berbeda dgn Saya yg kuliah di IPMI Business School… angkatan pertama pula… jadi gak ada organisasi2 kemahasiswaan palingan cuma BEM.
wah…menarik sekali postingnya mengenai “Not Just An Ordinary Activist”
kebetulan pas banget dengan apa yang mau saya cari, sebelumnya kenalan dulu lah ye…
saya mahasiswa UPN Jogja Jurusan Ilmu Komunikasi, nah kalo boleh minta tolong mba, saya lagi ada tugas Indepth Reporting, mengenai Organisasi Kemahasiswaan, dan kayanya saya tertarik ngobrol lebih jauh dengan mbak mengenai hal ini.
Karena saat ini saya melihat ada kecenderungan penurunan minat mahasiswa terhadap organisasi kemahasiswaan, yg disebabkan oleh banyak faktor, mungkin kita bisa ngobrol untuk ngebahas hal ini.
Saya cuma pengen tau apakah penurunan minat mahasiswa terhadap organisasi kemahasiswaan juga terjadi di kampus mbak?
kalo boleh saya minta email ato no. yang bisa saya hubungin.
Terimakasih atas bantuannya
…desy…
Animo mahasiswa terhadap organisasi yang sangat mengkhawatirkan menjadi PR bagi generasi mendatang. mengubah image bahwa aktivis itu ‘ga seberapa pinter’ trus molor. Padahal ga semua gitu.
Yang perlu diwaspadai adalah mahasiswa yang menjadikan organisasi sebagai pelarian dari kuliah mereka yang membara, dan ketika organisasi juga menggila mereka dengan mudahnya beralih ke kuliah lagi dan menjadikannya excuse untuk berkelit.
Yup!! thx banget untuk artikelnya
So… be An Extraordinary Activist, berusaha dan berdo`a
Oh iya, hm… kenalkan nama asliku ana
but sebagian ada yang manggil Onix, gak nyambung ya?! gak masalah lah. Yang jelas OnixRegia sekedar id. Oya an dari UNS.
An sepakat dengan mikearmand, ya walaupun rada tersinggung juga coz ini kadang juga an alami sendiri, menjadikan organisasi sebagai pelarian dari kuliah, dan hal tersebut an alami saat awal-awal perkuliahan. tapi ya insyaalloh dah sadar kok!
Teruslah memotivasi, thanks banget atas motivasinya.
Be… an extraordinary Activist
salam kenal
OnixRegia
OnixRegia, aku berani nulis gitu karena tanpa disadari seringkali aku juga begitu, tapi ya sudah mulai insyaf wkwkwk
Check and balances are important! - being an activist does not necessarily justify a lower grades/marks.. I guess this is just lack of one’s competency to delegate priorities..
Hang in there… and may things ahead be smooth..
being ekstraordinary activist? siapa takut!
yg punya blog dicari jeng sendal tuh http://the.sandalian.com
ntar aja ah komennya, cuma mampir sebentar, cuma mau say hi
ah, berani apa ndak ya?
kalo begitu memang perlu ignore kata-kata fans..
*maksudnya gimana tho sayah ini..*
iya tuh..
ada fans baru… si sandal
http://the.sandalian.com/139/gak-penting/ketemu
ngga tau dinnks
mungkin si sandal lebih tertarik ke next indonesian idol nya
geblek
Halo Jeng ^_^
Salam perkenalan. Hi mba daisy, gimana kabarnya. semoga tetap sehat. ok. perkenalkan, saya ahmad, asli orang bandung. saya mo ikut ambil bagian nih pada tulisan cantiknya..:).
memang betul apa yang dikatakan mba daisy, bahwa keseimbangan perlu dijaga dengan baik. ya aktif di kelas, ya aktif di organisasi. sehingga dua-duanya saling bercumbu dan memberi nilai lebih “extra value”, betul gak mba.
dalam pandanganku, mahasiswa aktivis artinya mahasiswa yang aktif tidak pasif. ketika di kelas, ia tidak saja menerima dan menelan ucapan dosen begitu saja, tapi ia berusaha kritis sehingga gelora proses belajar mengajar kian hidup. tentu saja sikap kritis ini bisa saja sebagai pengaruh dari keaktifannya di organisasi yang mengajarkannya untuk mandiri dan bisa bekerja sama denga teman. saat-saat diorganisasi pun, ia bukan aktifis yang fasif tapi aktifis yang aktif. apa betul ada aktifis yang pasif? heheh…
gitu aja deh dari saya.
salam dari ahmad yang kini terhempas jadi tki di saudi arabia
@itsme
ah, siapa bilang?
kenyataannya sedikit sekali - jika tidak bisa dibilang tidak ada - hubungan antara keaktifan berorganisasi dengan keaktifan mahasiswa di kelas..
hehehe…
Salut buat tulisannya. Mudah2an aslinya juga begitu. Aktif di organ kampus dan memiliki nilai akademis yg tinggi.
Di Medan semua organisasi lagi krisis. Krisis kader dan krisis kepemimpinan. Saat ini sangat sulit mengajak mahasiswa berorganisasi. Tapi disini kasusnya karena pihak birokrasi kampus yang nggak perduli mau eksis atau enggak organ mahasiswa, baik intra maupun ekstra kampus.
Bayangin, mau ada event nasional Kongres Mahasiswa Kehutanan Indonesia sekitar 2 minggu lagi, nandatanganin proposal pun sulitnya minta ampun ama ketua jurusan. Orang nggak tuh ??? Dekan ama Rektor aja langsung ACC, eh dia malah sok jual mahal. Pada gila proyek semua dosen di kampusku (kehutanan USU). Nggak peduli sama organisasi mahasiswa. *Muka Merah, Sambil Maki2 (Didalam hati) On*